khutbah jumat keutamaan dzikir
JAKARTA Teks Khutbah Jumat singkat kali ini membahas tentang keutamaan Bulan Dzulhijjah. Saat ini, umat Islam telah memasuki Bulan Dzulhijjah yang merupakan satu dari empat bulan mulia. Sesuai hasil sidang isbat 2022, awal Bulan Dzulhijjah jatuh pada hari Jumat bertepatan tanggal 1 Juli 2022. BACA JUGA:
AlAl Hasyr : 19. " Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.". Kasih sayang Allah Subhaanahu wa Ta'ala dengan cara memberikan larangan kepada kita , agar kita tidak menyimpang dari aturan agama-Nya, sehingga terselamat
Hadirinyang dirahmati Allah, Pada hari Jumat di penghujung bulan Februari ini, tidak terasa kita telah berada pada hari keempat bulan Rajab 1441 H, satu dari empat al Asyhur al Hurum, bulan-bulan haram, bulan-bulan yang suci dan mulia, yaitu Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
Lebihparah lagi kalau yang dighibahi dan dicari auratnya itu, dicari aibnya itu, orang yang punya kedudukan, Na'udzubillah. 🗂Dibongkar. Na'udzubillah. Lebih besar dosanya, lebih keji dosanya, lebih mengerikan kemunafikannya dan lebih dahsyat efek negatifnya nanti. Sanksinya lebih mengerikan.
KhutbahJum'at: Inilah Keutamaan Bulan Sya'ban. Miftachul. Jumat, 26 Maret 2021, 05:18 Jumat, 26 Maret 2021, 05:20 499 views. dzikir, doa dan kebaikan-kebaikan yang lain. Doa di pertengahan malam, lebih-lebih di sepertiga malam terakhir adalah ibadah yang agung dan lebih berpotensi dikabulkan oleh Allah.
Welcher Reiche Mann Sucht Eine Frau. Usai mengerjakan shalat sebaiknya jangan langsung beranjak dari tempat shalat. Biasakan diri untuk dzikir sejenak dan berdo’a untuk kebaikan kita di dunia dan akhirat. Sebab dzikir merupakan ibadah yang sangat dianjurkan saat selesai termasuk ibadah yang mudah dan ringan dilakukan, namun ganjaran yang diberikan sangatlah besar. Kendati mudah dilakukan, ada banyak godaan yang harus disingkirkan agar tetap istiqamah dalam berdzikir. Di antara godaan yang dimaksud adalah Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali memasukkan bahasan khusus tentang do’a dan dzikir. Menurutnya, salah satu dzikir yang sangat dianjurkan ialah membaca subhânallâh, alhamdulillâh, dan allâhu akbar sebanyak 33 kali. Kemudian ditutup dengan melafalkan lâ ilâha illallâh lâ syarîka lahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa alâ kulli syaiin qadîr satu ini didasarkan pada hadis riwayat Abu Hurairah yang berbunyiقال صلى الله عليه وسلم من سبح دبر كل صلاة ثلاثا وثلاثين وحمد ثلاثا وثلاثين وكبر ثلاثا وثلاثين وختم المائة بلا إله إلا الله لاشريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير غفرت ذنوبه ولو كانت مثل زبد البحرArtinya, “Rasulullah SAW bersabda, Siapa yang bertasbih, bertahmid, dan bertakbir setelah shalat sebanyak 33 kali dan menutupnya dengan membaca lâ ilâha illallâh lâ syarîka lahu lahul mulku wa lahulhamdu wa huwa alâ kulli syai’in qadîr, maka dosanya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan,’” HR. Malik.Dengan demikian, budayakan setelah shalat membaca semua dzikir di atas. Berdasarkan hadits yang dikutip di atas, orang yang terbiasa melakukan ibadah ini, dosanya akan diampuni Allah Yang Maha Pengampun meskipun dosanya sebanyak buih di lautan. Wallahu alam. Hengki Ferdiansyah.
Khutbah Jumat Tentang Keutamaan Amalan Hati ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor. Khutbah Pertama – Khutbah Jumat Tentang Keutamaan Amalan HatiKhutbah kedua – Khutbah Jumat Tentang Keutamaan Amalan HatiDownload mp3 Khutbah Jumat Tentang Keutamaan Amalan Hati إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه قال الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وقال تعالى، يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّـهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّـهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا وقال تعالى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا أَمَّا بَعْدُ، فإِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ Ummatal Islam, Senantiasa kita memuji Allah atas limpahan karunia yang Allah berikan kepada kita. Dan khatib mewasiatkan dirinya untuk bertakwa kepada Allah dan demikian pula kepada jamaah sekalian. Karena sesungguhnya takwa adalah sebaik-baiknya perbekalan menuju kehidupan akhirat. Ketahuilah Ya Ummatal Islam, sesungguhnya hati manusia tak akan pernah bisa hidup dan tak akan pernah dia bisa tentram kecuali dengan mengenal penciptanya, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka hati yang senantiasa mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka itu menjadi hati yang benar-benar ditumbuhi dengan berbagai macam tanaman iman; hati yang ditumbuhi dengan rasa takut kepada Allah, hati yang ditumbuhi oleh rasa cinta kepada Allah, rasa berharap kepada Allah, bertawakal kepada Allah, itulah hati yang hidup. Dan kehidupan hati -Ya Akhal Islam- tentu lebih agung daripada kehidupan badan. Makanya Ya Akhal Islam, selayaknya setiap muslim untuk memperhatikan kehidupan hatinya. Karena sesungguhnya keselamatan ia di akhirat tergantung kepada keselamatan hatinya. Allah berfirman يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ﴿٨٨﴾ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّـهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ ﴿٨٩﴾ “Pada hari tidak akan bermanfaat harta dan anak-anak. Kecuali orang yang datang kepada Allah dengan membawa hati yang selamat.” QS. Asy-Syu’ara'[26] 88-89 Ternyata keselamatan hati itu menyebabkan kita selamat di akhirat kita Ya Akhal Islam. Maka Ya Akhal Islam, seorang mukmin berusaha untuk terus memperbaiki hatinya, berusaha terus untuk intropeksi terhadap dirinya dan hatinya melebihi seorang mukmin memikirkan badannya dan kesehatan badannya. Ummatal Islam a’azzakumullah wa iyyakum, Banyak di antara kita yang begitu semangat untuk memperbaiki amalan badan kita, namun terkadang kita lalai dari mengingat tentang amalan hati kita. Mungkin kita banyak berpuasa, mungkin kita banyak shalat malam, mungkin kita banyak melakukan amalan-amalan, tapi ternyata hati kita masih ada padanya kesombongan, ternyata hati kita masih ada padanya ujub, merasa bangga dengan amalan, ternyata di hati kita masih ada kedengkian, ternyata di hati kita masih ada su’udzan, demikian pula semua penyakit-penyakit itu ternyata masih bertengger di hati kita Ya Ummatal Islam. Sehingga akhirnya ternyata amalan itu tidak membersihkan hati kita. Adalah Salafush Shalih lebih memperhatikan kesehatan hatinya dibandingkan dengan kesehatan badannya, lebih memperhatikan amalan hati dibandingkan dengan amalan badan. Walaupun amalan badan memang besar, akan tetapi amalan hati lebih besar dari itu. Tawakal kepada Allah adalah amalan hati, cinta kepada Allah adalah amalan hati, takut kepada Allah, berharap kepada Allah adalah amalan hati. Dari amalan hati ini akan muncul amalan badan. Tak mungkin seseorang kuat untuk menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan Allah kecuali ketika hatinya telah ada rasa takut kepada Allah, ketika hatinya telah ada rasa cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka Ya Akhal Islam, berusaha bagaimana menumbuhkan rasa cinta kita kepada Allah, rasa takut kepada Allah, tawakal kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antaranya dengan banyak berzikir kepada Allah, di antaranya dengan banyak mengingat Allah, di antaranya dengan banyak mengenal Allah, siapakah Rabb kita? Karena itu adalah kebahagiaan yang sesungguhnya Ya Ummatal Islam. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela orang-orang yang hatinya keras dari berdzikir kepada Allah. Allah berfirman فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّـهِ “Celaka orang-orang yang keras hatinya dari mengingat Allah.” أُولَـٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ ﴿٢٢﴾ “Mereka itu berada dalam kesesatan yang nyata.” QS. Az-Zumar[39] 22 Allah mengancam dalam ayat ini orang-orang yang hatinya keras dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah mengatakan “Neraka wail, celaka untuk dia.” Berarti jarangnya berdzikir menunjukkan kerasnya hati Ya Akhal Islam. Maka dari itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala berusaha bagaimana hamba-hambaNya banyak berdzikir kepada Allah. Maka Allah mensyariatkan shalat lima waktu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pun mensyariatkan dzikir-dzikir semenjak kita bangun dari tidur sampai kemudian kita tidur. Rasulullah mengajarkan kepada kita dzikir-dzikirnya, demikian pula shalatnya. Rasulullah pun menganjurkan kita untuk baca Al-Qur’an, Rasulullah menganjurkan kita untuk memperbanyak mengucapkan Subhanallah, Alhamdulillah, Laa Ilaaha Illallah, Allahu akbar. Allah berfirman ا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّـهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ﴿٤١﴾ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا ﴿٤٢﴾ “Wahai orang-orang yang beriman, banyaklah berdzikir kepada Allah dengan dzikir yang banyak.” QS. Al-Ahzab[33] 41 Maka Ya Akhal Islam, mengapa Allah memerintahkan kita untuk banyak berdzikir kepada Allah? Karena itulah kehidupan hati kita. Tak mungkin hati kita hidup tanpa banyak berzikir kepada Allah. Oleh karena itulah Allah mensifati orang-orang munafiqin, mereka itu orang-orang yang jarang berdzikir kepada Allah. Allah berfirman إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّـهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّـهَ إِلَّا قَلِيلًا ﴿١٤٢﴾ “Sesungguhnya orang-orang munafik itu -kata Allah- mereka menipu Allah dan Allah akan menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malasnya, itu pun riya’ karena ingin dipuji manusia.” Kemudian Allah mengatakan وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّـهَ إِلَّا قَلِيلً “Dan mereka tidak berdzikir kepada Allah kecuali sedikit saja.” QS. An-Nisa'[4] 142 Disaat hati kita jarang berdzikir, disitulah penyakit kemunafikan akan bertengger di hati kita Ya Ummatal Islam. Maka belumkah saatnya kita untuk banyak berzikir kepada Allah? Belumkah saatnya hati kita untuk takut dengan dzikir kepada Allah? Allah berfirman أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّـهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ ﴿١٦﴾ “Belumkah saatnya untuk orang-orang yang beriman agar hati mereka khusyuk dengan dzikir kepada Allah? Janganlah mereka seperti orang-orang ahli kitab sebelum mereka, masa berlalu panjang kepada mereka ternyata panjangnya masa berlalu panjang kepada mereka, ternyata panjangnya masa membuat hati mereka kerasa. Dan kebanyakan mereka menjadi orang-orang yang fasik.” QS. Al-Hadid[57] 16 Ummatal Islam, Betapa butuhnya hati kita kepada dzikir kepada Allah. Bahkan ulama Salaf terdahulu berkata “Hati tanpa dzikir bagaikan ikan tanpa air,” sebagaimana ikan akan mati tanpa air, demikian pula hati akan mati tanpa berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka Ya Akhal Islam, adakah kebahagiaan dari seorang hamba ketika seorang hamba banyak berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala? Demi Allah, maka celaka orang yang banyak mengingat manusia tapi jarang mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia sering mengingat kesalahan-kesalahan orang, mengingat Si Fulan, tapi ia jarang berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Padahal kata para ulama ذِكْرُ النَّاسِ دَاءٌ، وَذِكْرُ اللهِ دَوَاءٌ “Mengingat manusia itu adalah penyakit hati, sedangkan mengingat Allah adalah obat untuk hati.” أقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكم Khutbah kedua – Khutbah Jumat Tentang Keutamaan Amalan Hati الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، نبينا محمد و آله وصحبه ومن والاه، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنَّ محمّداً عبده ورسولهُ Ummatal Islam, Oleh karena itulah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menganggap bahwa harta paling berharga yang dimiliki oleh seorang hamba adalah tiga perkara. Yang pertama وَلِسَانًا ذَاكِرًا “Lisan yang selalu berdzikir kepada Allah.” Yang kedua قَلْبًا شَاكِرًا “Hati yang selalu bersyukur atas nikmat-nikmat Allah.” Dan yang ketiga زَوْجَةً مُؤْمِنَةً تُعِينُ أَحَدَكُمْ عَلَى أَمْرِ الآخِرَةِ “istri yang shalihah yang membantu kalian untuk meraih akhirat.” HR. Tirmidzi Itu adalah sebaik-baiknya perhiasan, sebaik-baiknya harta yang dimiliki oleh seorang hamba. Maka Ya Akhal Islam, lisan yang tidak banyak berzikir kepada Allah, pasti banyak berghibah, pasti banyak berbuat maksiat, pasti banyak mengucapkan kata-kata yang tidak diridhai oleh Allah, pasti banyak mengucapkan kata-kata yang tidak ada manfaatnya. Maka lisan-lisan seperti itu Ya Akhi, akan banyak berbuat dosa akibat daripada lisan tak pernah berusaha untuk menghiasi hidupnya, hari-harinya, waktu-waktunya untuk berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka banyaklah berdzikir kepada Allah, karena sesungguhnya itu adalah kehidupan hati kita. إِنَّ اللَّـهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللهم أعز الإسلام والمسلمين، اللهم انصر المسلمين في كل مكان يا رب العالمين اللهم تب علينا إنك أنت التواب الرحيم رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ عباد الله إِنَّ اللَّـهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ فَاذْكُرُوا الله العَظِيْمَ يَذْكُرْكُم، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُم، ولذِكرُ الله أكبَر. Download mp3 Khutbah Jumat Tentang Keutamaan Amalan Hati Podcast Download Duration 1313 — Sumber audio Jangan lupa untuk ikut membagikan link download khutbah Jum’at ini, kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau yang lainnya. Semoga Allah membalas kebaikan Anda.
Dzikir Dan Syukur – Teks Khutbah Jumat Singkat Bahasa Indonesiaالحمدُ للهِ الْمَلِكِ الْعَزِيْزِ الْعَلَّامِ ، الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ الْكَرِيْمِ السَّلامِ ، غافِرِ الذَّنْبِ وقابِلِ التَّوْبِ من جَمِيعِ الآثَمِ ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى ما اتَّصَفَ بِهِ مِنْ صِفَاتِ الْجَلَالِ وَاْلِاكْرَامِ ، وأَشْكُرُهُ على ما أسْدَاهُ مِنْ جَزِيْلِ الْفَضْلِ والْإِنْعَامِ ، وأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلهَ الَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً أَرْجُوا بِهَا الْفَوْزَ بِدَارِ السَّلاَمِ ، وأشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ و رَسُوْلُهُ الَّذِىْ أَطْهَرَ اللهُ بِهِ الْاِيْمَانَ وَاْلِاسْلاَمِ ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وعَلَى آلِهِ وأصحابه الْبَرَارَةِ الْكِرَامِ ، وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْراً ، اما أَيُّهاَ الْمُسْلِمُوْنَ رَحِمَكُمُ الله اُوْصِيْكُمْ وَ اِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ ، فَاتَّقُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ وَأَطِيْعُوْهُ لَعَلَّكُمْ muslimin sidang Jum’ah RahimakumullahPada kesempatan yang baik ini, marilah kita meningkatkan takwa kita kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya, karena tidak ada bekal yang paling baik kita bawa ke hadapan Allah SWT, kecuali takwa kita muslimin sidang Jum’ah rahimakumullahMari kita memperhatikan ayat 152 dari surat Al-Baqarah yang berbunyi فَاذْكُرُوْنِي اَذْكُرْكُمْ وَاشْـكُرُوْا لِي وَلاَ تَكْفُرُوْنَIngatlah kepadaku aku akan ingat kepadamu, dan bersyukurlah kepadaku dan janganlah sekali-kali engkau mengkufuri ayat tersebut di atas, kita diperintahkan Allah untuk selalu ingat kepada-Nya karena Dia-lah Pencipta segala makhluk, Pencipta segalanya, yang ada di alam semesta. Dia mampu menghidupkan yang mati. Dia Maha Kuasa dari segala-galanya. Dia tidak pernah rusak. Dia tidak pernah mati هُوَ اْلأَوَّلُ وَاْلأَخِرُ tidak ada sekutu الْمُسْـلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله ُPerintah dzikir dalam al-Qur’an banyak sekali disebutkan al-ahzab 41-42 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ، وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah dengan menyebut nama Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. 42. dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. QS. al-ahzab 41-42فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. al-Jumuat 10Adapun lafadz dzikir adalah لاَاِلَهَ اِلاَّ الله ُ tidak ada Tuhan selain Allah. Tetapi jalan menuju dzikir sangat banyak sekali diantaranya ;Dengan melihat ciptaan Allah, tidak terlihat apa yang diciptakan tetapi melihat dan berangan-angan siapa yang menciptakan. Kalau kita sudah berdzikir seperti itu, maka kita akan termasuk orang yang أُوْلُو اْلأَلْبَابِ. Siapakah orang yang ulul albab itu disebutkan dalam surat Ali Imron ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka. ali Imron 191Melakukan shalat, sebagaimana firman Allah اَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِيْ “Dirikanlah sholat untuk berdzikir kepadaku“. Akan tetap sholat yang khusyu’ dalam artian orangnya sholat tetapi hatinya juga sholat. Selama ini banyak sekali orang yang sholat tetapi hatinya tidak sholat. Oleh karena itu sholat dikategorikan menjadi tiga tingkatan سَاهُوْنَ, yakni orang yang melakukan sholat tapi dalam keadaan sembrono, baik waktunya, pakaiannya, maupun cara melakukannya. Dia meskipun melakukan sholat tetapi masih diancam neraka wail, فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّيْنَ اَلَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلاَتِهِمْ سَاهُوْنَخَاشِـعُوْنَ, yakni orang yang melakukan sholat dalam keadaan khusyu’دَاِئمُـوْنَ, yakni orang yang melakukan sholat tepat pada waktunya,Dua kriteria sholat inilah yang dinamakan sholat dihukumi berdzikirمَعَاشِـرَ الْمُسْـلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله ُOrang yang ahli dzikir dan bukan ahli dzikir itu sangat berbeda sekali, kalau ahli dzikir yang dicintai adalah khalik Pencipta, tetapi sebaliknya, orang yang tidak pernah dzikir yang dicintai adalah makhluk. makhluk pasti ada masanya, ada gradasinya, suatu saat akan hancur binasa, ada masa kaya, ada masa jaya, ada masa kuat, suatu saat akan akan lemah, makhluk membutuhkan bantuan orang lain ketika beraktivitas, makhluk membutuhkan mesin dalam berkarya. Tetapi Allah tidak pernah membutuhkan bantuan mesin maupun orang lain dalam menciptakan segala sesuatu yang ada di alam ini kita sering sekali lupa terhadap Allah. Hal itu dikarenakan kita terlalu sibuk mengurusi masalah duniawi sehingga kita lupa akhirat. Jabatan, harta, wanita, kekayaan membuat kita terlena, apakah kita tidak boleh cinta terhadap jabatan, harta maupun kekayaan? Hal itu boleh saja, akan tetapi jangan sampai cinta jabatan, harta, kakayaan mengalahkan cinta kita terhadap Allah adalah makhluk. Manusia hanya dapat menciptakan al-furu’ tetapi tidak dapat menciptakan al-ashl. al-furu’ diumpamakan serban, al-ashl diumpamakan kapas, manusia mampu memnciptakan mobil tetapi tidak mampu menciptakan tambang besi. semuanya suatu saat akan meninggalkan kita. Apakah harta lebih dulu meninggalkan kita ataukah kita yang lebih dulu kita mau berfikir dan berdzikir, kita termasuk orang yang Ulul الْمُسْـلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله ُDalam kelanjutan ayat tersebut وَاشْـكُرُوْا لِي وَلاَ تَكْفُرُوْنَ bersyukurlah kepadaku dan janganlah sekali-kali engkau kufur itu adalah memuji Allah. Dalam kitab yang pernah saya baca, syukur dibagi tiga اَلشُّكْرُ بِالِّلسَانِ syukur dengan menggunakan lisan, dengan cara melafadzkan اَلْحَمْدُ ِلله ِاَلشُّكْرُ باِلْجَنـَانِ syukur dengan hati, dengan cara nerima segala pemberian Allah dalam istilah jawa nerima ing pandumاَلشُّكْرُ بِاْلأَرْكَانِ, syukur dengan melalui perbuatan, semua perintah Allah kita laksanakan dan selalu menjauhi segala ini Indonesia mengalami banyak musibah merebaknya Virus Corona-19 yang hampir merata di seluruh Indonesia. Itu semua bukanlah sebuah ujian, tetapi sebuah peringatan. Karena kalau ujian اِذَا اَحَبَّ الله ُعَبْدًا اِِبْتـَلَي, tatkala Allah mencintai hambanya, maka akan memberikan ujian, kemudian Allah akan mengangkat derajatnya. Mungkin itu dikarenakan kita sering lupa terhadap Allah dan kurang pinter syukur atas nikmat-nikmat yang telah dikaruniakan kepada karena itu kita yang hadir di majelis ini marilah kita selalu berdzikir kepada Allah dan janganlah sampai lupa untuk mensyukuri atas nikmat-nikmatnya. Karena apabila kita menghitung semua nikmat yang telah diberikan kepada kita, kita tidak akan mampuuntuk meghitungnya. وَاِنْ تَـعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ لاَتُحْصُوْهَامَعَاشِـرَ الْمُسْـلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله ُDemikian khutbah singkat yang dapat saya sampaikan. Dengan satu harapan mudah-mudahan kita tergolong orang-orang yang ahli dzikir dan ahli dalam mensyukuri nkmatnya dan kita diberikan keselamatan dunia dan Basith MWC NU Jombang
إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. [آل عمران 102] يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا [النساء 1] يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا [الأحزاب 70-71] أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan menjalankan perintah-perintah-Nya sekuat kemampuan kita, serta dengan menjauhi segala larangan-Nya. Dan marilah kita senantiasa mengingat bahwa dunia yang kita tempati ini bukanlah tempat tinggal selamanya. Bahkan sebenarnya kita sedang dalam suatu perjalanan menuju tempat tinggal yang sesungguhnya di alam akhirat nanti. Telah banyak orang yang dulunya bersama kita atau bahkan dahulu tinggal satu rumah dengan kita, telah melewati dan meninggalkan dunia ini. Mereka telah meninggalkan tempat beramal di dunia ini menuju tempat perhitungan dan pembalasan amalan. Akan segera datang pula saatnya kita menyusul mereka. Maka, marilah kita manfaatkan dunia ini sebagai tempat mencari bekal untuk kehidupan akhirat kita. Sungguh seseorang akan menyesal ketika pada hari perhitungan amal nanti dia datang dalam keadaan tidak membawa amal shalih. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ اْلإِنْسَانُ وَأَنَّى لَهُ الذِّكْرَى. يَقُوْلُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي “Pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan amal shalih untuk hidupku di akhirat ini’.” Al-Fajr 23-24 Hadirin yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala,Di dalam perjalanan hidup di dunia ini, kita akan menjumpai hari-hari yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan keutamaan di dalamnya. Yaitu dengan dilipatgandakannya balasan amalan dengan pahala yang berlipat, tidak seperti hari-hari biasanya. Di antara hari-hari tersebut adalah sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Hal ini sebagaimana tersebut di dalam sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ اْلأَيَّامِ - يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ؟ قَالَ وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ رَجُلاً خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ “Tidaklah ada hari yang amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh Allah dari hari-hari tersebut yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.” Para sahabat pun bertanya “Wahai Rasulullah, apakah jihad di jalan Allah tidak lebih utama?” Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata “Tidaklah jihad lebih utama dari beramal di hari-hari tersebut, kecuali orang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan keduanya karena mati syahid.” HR. Al-Bukhari Saudara-saudaraku kaum muslimin yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala,Pada sepuluh hari yang pertama ini, kita juga disyariatkan untuk banyak berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, baik itu berupa ucapan takbir, tahmid, maupun tahlil. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُوْمَاتٍ “Dan supaya mereka berdzikir menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan.” Al-Hajj 28 Diterangkan oleh para ulama bahwa hari-hari yang ditentukan pada ayat tersebut adalah sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah. Maka hadits dan ayat tadi menunjukkan keutamaan hari-hari tersebut dan betapa besarnya rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala masih memberikan kesempatan bagi orang yang belum mampu menjalankan ibadah haji untuk mendapatkan keutamaan yang besar pula, yaitu beramal shalih pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Sehingga sudah semestinya kaum muslimin memanfaatkan sepuluh hari pertama ini dengan berbagai amalan ibadah, seperti berdoa, dzikir, sedekah, dan sebagainya. Termasuk amal ibadah yang disyariatkan untuk dikerjakan pada hari-hari tersebut –kecuali hari yang kesepuluh– adalah puasa. Apalagi ketika menjumpai hari Arafah, yaitu hari kesembilan di bulan Dzulhijjah, sangat ditekankan bagi kaum muslimin untuk berpuasa yang dikenal dengan istilah puasa Arafah, kecuali bagi jamaah haji yang sedang wukuf di Arafah. Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ketika ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau Shallallahu alaihi wa sallam menjawab يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ “Puasa Arafah menghapus dosa-dosa setahun yang lalu dan yang akan datang.” HR. Muslim Adapun bagi para jamaah haji, mereka tidak diperbolehkan untuk berpuasa, karena pada hari itu mereka harus melakukan wukuf. Karena mereka memerlukan cukup kekuatan untuk memperbanyak dzikir dan doa pada saat wukuf di Arafah. Sehingga pada hari tersebut kita semua berharap untuk mendapatkan keutamaan yang sangat besar serta ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan bahwa hari itu adalah hari pengampunan dosa-dosa dan hari dibebaskannya hamba-hamba yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki dari api neraka. Sebagaimana dalam sabda beliau Shallallahu alaihi wa sallam مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللهُ فِيْهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ “Tidak ada hari yang Allah membebaskan hamba-hamba dari api neraka, lebih banyak daripada di hari Arafah.” HR. Muslim Hadirin rahimakumullah,Pada bulan Dzulhijjah juga ada hari yang sangat istimewa yang dikenal dengan istilah hari nahr. Yaitu hari kesepuluh di bulan tersebut, di saat kaum muslimin merayakan Idul Adha dan menjalankan shalat Id serta memulai ibadah penyembelihan qurbannya, sementara para jamaah haji menyempurnakan amalan hajinya. Begitu pula hari-hari yang datang setelahnya, yang dikenal dengan istilah hari tasyriq, yaitu hari yang kesebelas, keduabelas, dan ketigabelas. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengkhususkan hari-hari tersebut sebagai hari-hari untuk makan, minum, dan berdzikir. Dan hari-hari itulah yang menurut keterangan para ulama adalah hari yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala وَاذْكُرُوا اللهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُوْدَاتٍ “Dan berdzikirlah dengan menyebut Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” Al-Baqarah 203 Dan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam juga menyebutkan tentang hari-hari tersebut أَيَّامُ مِنَى أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ “Hari-hari Mina hari nahr dan tasyriq adalah hari-hari makan dan minum serta berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” HR. Muslim Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah,Berkaitan dengan dzikir yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan kaum muslimin untuk banyak mengucapkannya pada hari-hari tasyriq dan hari-hari sebelumnya di awal bulan Dzulhijjah, para ulama dalam Al-Lajnah Ad-Da`imah menyebutkan fatwa sebagai berikut “Disyariatkan pada Idul Adha takbir mutlak dan takbir muqayyad. Adapun takbir mutlak maka disyariatkan untuk dilakukan pada seluruh waktu dari mulai awal masuknya bulan Dzulhijjah sampai hari yang terakhir dari hari-hari tasyriq. Sedangkan takbir muqayyad disyariatkan untuk dilakukan pada setiap selesai shalat wajib mulai dari setelah selesai shalat subuh pada hari Arafah sampai setelah shalat Ashr pada akhir hari tasyriq. Dan pensyariatkan hal tersebut ditunjukkan oleh ijma’ dan perbuatan para shahabat radhiyallahu 'anhum.” Sebagaimana ibadah lainnya, dzikir juga merupakan suatu amalan yang tata caranya tidak boleh menyimpang dari petunjuk Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Sehingga para ulama juga memberikan peringatan dari dilakukannya takbir secara jama’i, karena hal itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan Al-Khulafa` Ar-Rasyidin. Yang dimaksud di sini adalah takbir yang diucapkan secara bersama-sama dengan satu suara dan dipimpin oleh seseorang. Hal ini sebagaimana tersebut dalam fatwa para ulama dalam Al-Lajnah Ad-Da`imah yang isinya “Yang benar adalah setiap orang melakukan takbir sendiri-sendiri dengan suara keras. Karena sesungguhnya takbir dengan cara bersama-sama dengan satu suara yang dipimpin oleh seseorang tidak pernah dilakukan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Dan beliau Shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ “Barangsiapa yang mengamalkan amalan yang tidak ada syariatnya dari kami maka amalan tersebut ditolak.” HR. Al-Bukhari Muslim Hadirin rahimakumullah,Akhirnya, marilah kita berusaha memanfaatkan hari-hari yang penuh dengan keutamaan untuk menambah dan meningkatkan amal shalih kita. Begitu pula kita manfaatkan waktu yang ada untuk memperbanyak dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga kita akan menjadi orang yang mendapatkan kelapangan hati, senantiasa takut kepada-Nya dan terjaga dari gangguan setan, serta faedah lainnya dari amalan berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. {فَاذْكُرُوْنِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلاَ تَكْفُرُوْنِ}.بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. Khutbah Kedua الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَمَرَنَا بِاتِّبَاعِ صِرَاطِهِ الْمُسْتَقِيْمِ وَنَهَانَا عَنِ اتِّبَاعِ سُبُلِ أَصْحَابِ الْجَحِيْمِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْبَرُّ الرَّحِيْمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ بَلَّغَ اْلبَلاَغَ الْمُبِيْنَ وَقَالَ عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ تَلَقَّوْا عَنْهُ الدِّيْنَ وَبَلَّغُوْهُ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan selalu menjalankan berbagai ketaatan kepada-Nya. Di antara bentuk ketaatan yang sangat besar keutamaannya dan sangat penting untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah menyembelih binatang qurban. Amalan ini merupakan sunnah Nabi Ibrahim alaihissalam dan Nabi kita Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Maka seorang muslim yang memiliki kemampuan semestinya menjalankan amal ibadah yang mulia ini, yaitu menyembelih hewan qurban, baik dia lakukan sendiri dan ini lebih afdhal, atau meminta orang lain yang mengetahui hukum dan cara penyembelihan yang syar’i untuk melakukan penyembelihannya. Namun tidak boleh baginya untuk membayar upah penyembelihannya dengan sebagian dari hewan qurbannya, baik itu kepalanya, kulitnya, atau yang semisalnya. Meskipun boleh baginya untuk memberinya sebagai sedekah sebagaimana diberikan kepada yang lainnya dari kalangan fakir miskin. Atau bisa pula dia memberikan sebagian dari hewan qurbannya sebagai hadiah, sebagaimana dia berikan pula kepada yang lainnya baik tetangga ataupun kerabatnya meskipun mereka orang yang kaya. Dan disunnahkan bagi orang yang berqurban untuk memakan hewan sembelihannya, namun tidak boleh baginya untuk menjual bagian apapun dari hewan sembelihannya. Begitu pula tidak boleh bagi orang yang berqurban untuk memotong rambut dan kukunya dari mulai masuknya awal bulan Dzulhijjah sampai dia melakukan ibadah penyembelihan hewan qurban. Yang demikian tadi disebutkan dalam hadits-hadits yang shahih. Saudara-saudaraku kaum muslimin yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,Disebutkan pula dalam hadits Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, bahwa untuk melaksanakan ibadah qurban ini, tujuh orang atau kurang bisa bergabung secara bersama-sama dengan menyembelih seekor onta atau sapi. Begitu pula bisa dengan menyembelih seekor kambing, namun itu hanya mencukupi untuk satu orang. Namun dengan menyembelih satu ekor kambing sudah mencukupi untuk diri dan keluarganya, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia. Dengan cara dia niatkan pahalanya untuk dirinya dan seluruh keluarganya baik yang hidup maupun yang telah meninggal dunia1. Maka semua akan mendapat keutamaan dan pahala yang sangat besar. Wallahu a’lam bish-shawab. Hadirin rahimakumullah,Ibadah menyembelih qurban ini harus dilakukan sesuai dengan ketentuan yang telah disyariatkan. Baik yang berkaitan dengan waktu penyembelihan maupun yang berkaitan dengan kriteria dan syarat-syarat hewan yang bisa dijadikan sebagai hewan qurban. Adapun yang berkaitan dengan waktu penyembelihan, waktunya adalah dimulai dari setelah selesai shalat Idul Adha dan berakhir waktunya menurut pendapat yang benar hingga tenggelamnya matahari pada hari ketiga belas di bulan Dzulhijjah. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيَذْبَحْ مَكَانَهَا أُخْرَى “Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat, maka sembelihlah lagi kambing untuk menggantikan kambing yang disembelih sebelum saatnya tersebut.” Muttafaqun alaih Hadirin yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,Adapun berkaitan dengan syarat hewan yang akan dijadikan sebagai hewan qurban, hewan tersebut harus sudah mencapai umur yang telah ditentukan. Juga sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, hewan itu bukanlah hewan yang buta satu matanya dan sangat jelas butanya, serta bukan pula hewan yang terkena sakit dan sangat jelas sakitnya. Bukan pula hewan yang pincang sehingga tidak bisa berjalan mengikuti lainnya, serta bukan hewan yang sudah sangat tua sehingga tidak pantas untuk dikonsumsi dagingnya. Oleh karena itu, wajib bagi kaum muslimin untuk belajar dan bertanya kepada ahlinya tentang hal-hal yang berkaitan dengan ibadah qurban ini. Hadirin rahimakumullah,Semestinya seseorang yang berqurban berusaha untuk mencari sebaik-baik hewan yang akan dijadikan sebagai hewan qurban. Hewan yang tinggi nilai/harganya, seperti yang banyak dagingnya, bagus warnanya, dan kuat/sehat tubuhnya, atau yang semisalnya. Karena, yang demikian termasuk bentuk pengagungan terhadap syi’ar-syi’ar Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menunjukkan besarnya ketakwaan dirinya. Hal ini sebagaimana tersebut dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ “Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu menunjukkan ketakwaan hati.” Al-Hajj 32 Akhirnya, mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan kepada kita petunjuk-Nya sehingga kita bisa menjalankan ibadah sebagaimana yang disyariatkan-Nya. Dan mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menjadikan kita menjadi orang yang sia-sia amalannya, karena beribadah dengan tidak ikhlas atau tidak sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan Al-Khulafa` Ar-Rasyidin. Sebagaimana tersebut dalam firman-Nya قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِاْلأَخْسَرِيْنَ أَعْمَالاً. الَّذِيْنَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُوْنَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُوْنَ صُنْعًا “Katakanlah Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya’.” Al-Kahfi 103-104 اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ في كُلِّ مَكَانٍ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّهُ سَمِيْعٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ ... اذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Berikut adalah keutamaan-keutamaan dzikir yang disarikan oleh Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam kitabnya Al Wabilush Shoyyib. Moga bisa menjadi penyemangat bagi kita untuk menjaga lisan ini untuk terus berdzikir, mengingat Allah daripada melakukan hal yang tiada guna. 1 mengusir setan. 2 mendatangkan ridho Ar Rahman. 3 menghilangkan gelisah dan hati yang gundah gulana. 4 hati menjadi gembira dan lapang. 5 menguatkan hati dan badan. 6 menerangi hati dan wajah menjadi bersinar. 7 mendatangkan rizki. 8 orang yang berdzikir akan merasakan manisnya iman dan keceriaan. 9 mendatangkan cinta Ar Rahman yang merupakan ruh Islam. 10 mendekatkan diri pada Allah sehingga memasukkannya pada golongan orang yang berbuat ihsan yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihatnya. 11 mendatangkan inabah, yaitu kembali pada Allah azza wa jalla. Semakin seseorang kembali pada Allah dengan banyak berdzikir pada-Nya, maka hatinya pun akan kembali pada Allah dalam setiap keadaan. 12 seseorang akan semakin dekat pada Allah sesuai dengan kadar dzikirnya pada Alalh azza wa jalla. Semakin ia lalai dari dzikir, ia pun akan semakin jauh dari-Nya. 13 semakin bertambah ma’rifah mengenal Allah. Semakin banyak dzikir, semakin bertambah ma’rifah seseorang pada Allah. 14 mendatangkan rasa takut pada Rabb azza wa jalla dan semakin menundukkan diri pada-Nya. Sedangkan orang yang lalai dari dzikir, akan semakin terhalangi dari rasa takut pada Allah. 15 meraih apa yang Allah sebut dalam ayat, فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ “Maka ingatlah pada-Ku, maka Aku akan mengingat kalian.” QS. Al Baqarah 152. Seandainya tidak ada keutamaan dzikir selain yang disebutkan dalam ayat ini, maka sudahlah cukup keutamaan yang disebut. 16 hati akan semakin hidup. Ibnul Qayyim pernah mendengar gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, الذكر للقلب مثل الماء للسمك فكيف يكون حال السمك إذا فارق الماء ؟ “Dzikir pada hati semisal air yang dibutuhkan ikan. Lihatlah apa yang terjadi jika ikan tersebut lepas dari air?” 17 hati dan ruh semakin kuat. Jika seseorang melupakan dzikir maka kondisinya sebagaimana badan yang hilang kekuatan. Ibnul Qayyim rahimahullah menceritakan bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sesekali pernah shalat Shubuh dan beliau duduk berdzikir pada Allah Ta’ala sampai beranjak siang. Setelah itu beliau berpaling padaku dan berkata, Ini adalah kebiasaanku di pagi hari. Jika aku tidak berdzikir seperti ini, hilanglah kekuatanku’ –atau perkataan beliau yang semisal ini-. 18 dzikir menjadikan hati semakin kilap yang sebelumnya berkarat. Karatnya hati adalah disebabkan karena lalai dari dzikir pada Allah. Sedangkan kilapnya hati adalah dzikir, taubat dan istighfar. 19 menghapus dosa karena dzikir adalah kebaikan terbesar dan kebaikan akan menghapus kejelekan. 20 menghilangkan kerisauan. Kerisauan ini dapat dihilangkan dengan dzikir pada Allah. 21 ketika seorang hamba rajin mengingat Allah, maka Allah akan mengingat dirinya di saat ia butuh. 22 jika seseorang mengenal Allah dalam keadaan lapang, Allah akan mengenalnya dalam keadaan sempit. 23 menyelematkan seseorang dari adzab neraka. 24 dzikir menyebabkan turunnya sakinah ketenangan, naungan rahmat, dan dikelilingi oleh malaikat. 25 dzikir menyebabkan lisan semakin sibuk sehingga terhindar dari ghibah menggunjing, namimah adu domba, dusta, perbuatan keji dan batil. 26 majelis dzikir adalah majelis para malaikat dan majelis orang yang lalai dari dzikir adalah majelis setan. 27 orang yang berzikir begitu bahagia, begitu pula ia akan membahagiakan orang-orang di sekitarnya. 28 akan memberikan rasa aman bagi seorang hamba dari kerugian di hari kiamat. 29 karena tangisan orang yang berdzikir, maka Allah akan memberikan naungan Arsy padanya di hari kiamat yang amat panas. 30 sibuknya seseorang pada dzikir adalah sebab Allah memberi untuknya lebih dari yang diberikan pada peminta-minta. 31 dzikir adalah ibadah yang paling ringan, namun ibadah tersebut amat mulia. 32 dzikir adalah tanaman surga. 33 pemberian dan keutamaan yang diberikan pada orang yang berdzikir, tidak diberikan pada amalan lainnya. 34 senantiasa berdzikir pada Allah menyebabkan seseorang tidak mungkin melupakan-Nya. Orang yang melupakan Allah adalah sebab sengsara dirinya dalam kehidupannya dan di hari ia dikembalikan. Seseorang yang melupakan Allah menyebabkan ia melupakan dirinya dan maslahat untuk dirinya. Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka Itulah orang-orang yang fasik.” QS. Al Hasyr 19 35 dzikir adalah cahaya bagi pemiliknya di dunia, kubur, dan hari berbangkit. 36 dzikir adalah ro’sul umuur inti segala perkara. Siapa yang dibukakan baginya kemudahan dzikir, maka ia akan memperoleh berbagai kebaikan. Siapa yang luput dari pintu ini, maka luputlah ia dari berbagai kebaikan. 37 dzikir akan memperingatkan hati yang tertidur lelap. Hati bisa jadi sadar dengan dzikir. 38 orang yang berdzikir akan semakin dekat dengan Allah dan bersama dengan-Nya. Kebersamaan di sini adalah dengan kebersamaan yang khusus, bukan hanya sekedar Allah itu bersama dalam arti mengetahui atau meliputi. Namun kebersamaan ini menjadikan lebih dekat, mendapatkan perwalian, cinta, pertolongan dan taufik Allah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” QS. An Nahl 128 وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ “Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” QS. Al Baqarah 249 وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ “Dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” QS. Al Ankabut 69 لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا “Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta kita.” QS. At Taubah 40 39 dzikir itu dapat menyamai seseorang yang memerdekakan budak, menafkahkan harta, dan menunggang kuda di jalan Allah, serta juga dapat menyamai seseorang yang berperang dengan pedang di jalan Allah. Sebagaimana terdapat dalam hadits, مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ ، وَلَهُ الْحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ . فِى يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ ، كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ “Barangsiapa yang mengucapkan Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku, wa lahul hamdu, wa huwa ala kulli syain qodiir dalam sehari sebanyak 100 kali, maka itu seperti memerdekakan 10 budak.”[1] 40 dzikir adalah inti dari bersyukur. Tidaklah bersyukur pada Allah Ta’ala orang yang enggan berdzikir. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda pada Mu’adz, يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ ». فَقَالَ أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ » “Wahai Mu’adz, demi Allah, sungguh aku mencintaimu. Demi Allah, aku mencintaimu.” Lantas Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Aku menasehatkan kepadamu –wahai Mu’adz-, janganlah engkau tinggalkan di setiap akhir shalat bacaan Allahumma a’inni ala dzikrika wa syukrika wa husni ibadatik’ Ya Allah tolonglah aku untuk berdzikir dan bersyukur serta beribadah yang baik pada-Mu.”[2] Dalam hadits ini digabungkan antara dzikir dan syukur. Begitu pula Allah Ta’ala menggabungkan antara keduanya dalam firman Allah Ta’ala, فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.” QS. Al Baqarah 152. Hal ini menunjukkan bahwa penggabungan dzikir dan syukur merupakan jalan untuk meraih bahagia dan keberuntungan. 41 makhluk yang paling mulia adalah yang bertakwa yang lisannya selalu basah dengan dzikir pada Allah. Orang seperti inilah yang menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah. Ia pun menjadikan dzikir sebagai syi’arnya. 42 hati itu ada yang keras dan meleburnya dengan berdzikir pada Allah. Oleh karena itu, siapa yang ingin hatinya yang keras itu sembuh, maka berdzikirlah pada Allah. Ada yang berkata kepada Al Hasan, “Wahai Abu Sa’id, aku mengadukan padamu akan kerasnya hatiku.” Al Hasan berkata, “Lembutkanlah dengan dzikir pada Allah.” Karena hati ketika semakin lalai, maka semakin keras hati tersebut. Jika seseorang berdzikir pada Allah, lelehlah kekerasan hati tersebut sebagaimana timah itu meleleh dengan api. Maka kerasnya hati akan meleleh semisal itu, yaitu dengan dzikir pada Allah azza wa jalla. 43 dzikir adalah obat hati sedangkan lalai dari dzikir adalah penyakit hati. Obat hati yang sakit adalah dengan berdzikir pada Allah. Mak-huul, seorang tabi’in, berkata, “Dzikir kepada Allah adalah obat bagi hati. Sedangkan sibuk membicarakan aib manusia, itu adalah penyakit.” 44 tidak ada sesuatu yang membuat seseorang mudah meraih nikmat Allah dan selamat dari murka-Nya selain dzikir pada Allah. Jadi dzikir adalah sebab datangnya dan tertolaknya murka Allah. Allah Ta’ala berfirman, وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu.” QS. Ibrahim 7. Dzikir adalah inti syukur sebagaimana telah disinggung sebelumnya. Sedangkan syukur akan mendatangkan nikmat dan semakin bersyukur akan membuat nikmat semakin bertambah. 45 dzikir menyebabkan datangnya shalawat Allah dan malaikatnya bagi orang yang berdzikir. Dan siapa saja yang mendapat shalawat pujian Allah dan malaikat, sungguh ia telah mendapatkan keuntungan yang besar. Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا 41 وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا 42 هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا 43 “Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah dengan menyebut nama Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya memohonkan ampunan untukmu, supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya yang terang. dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” QS. Al Ahzab 41-43 46 dzikir kepada Allah adalah pertolongan besar agar seseorang mudah melakukan ketaatan. Karena Allah-lah yang menjadikan hamba mencintai amalan taat tersebut, Dia-lah yang memudahkannya dan menjadikan terasa nikmat melakukannya. Begitu pula Allah yang menjadikan amalan tersebut sebagai penyejuk mata, terasa nikmat dan ada rasa gembira. Orang yang rajin berdzikir tidak akan mendapati kesulitan dan rasa berat ketika melakukan amalan taat tersebut, berbeda halnya dengan orang yang lalai dari dzikir. Demikianlah banyak bukti yang menjadi saksi akan hal ini. 47 dzikir pada Allah akan menjadikan kesulitan itu menjadi mudah, suatu yang terasa jadi beban berat akan menjadi ringan, kesulitan pun akan mendapatkan jalan keluar. Dzikir pada Allah benar-benar mendatangkan kelapangan setelah sebelumnya tertimpa kesulitan. 48 dzikir pada Allah akan menghilangkan rasa takut yang ada pada jiwa dan ketenangan akan selalu diraih. Sedangkan orang yang lalai dari dzikir akan selalu merasa takut dan tidak pernah merasakan rasa aman. 49 dzikir akan memberikan seseorang kekuatan sampai-sampai ia bisa melakukan hal yang menakjubkan. Itulah karena disertai dengan dzikir. Contohnya adalah Ibnu Taimiyah yang sangat menakjubkan dalam perkataan, tulisannya, dan kekuatannya. Tulisan Ibnu Taimiyah yang ia susun sehari sama halnya dengan seseorang yang menulis dengan menyalin tulisan selama seminggu atau lebih. Begitu pula di medan peperangan, beliau terkenal sangat kuat. Inilah suatu hal yang menakjubkan dari orang yang rajin berdzikir. 50 orang yang senantiasa berdzikir ketika berada di jalan, di rumah, di lahan yang hijau, ketika safar, atau di berbagai tempat, itu akan membuatnya mendapatkan banyak saksi di hari kiamat. Karena tempat-tempat tadi, gunung dan tanah, akan menjadi saksi bagi seseorang di hari kiamat. Kita dapat melihat hal ini pada firman Allah Ta’ala, إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا 1 وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا 2 وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا 3 يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا 4 بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا 5 “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan yang dahsyat, dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya, dan manusia bertanya “Mengapa bumi menjadi begini?”, pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan yang sedemikian itu kepadanya.” QS. Az Zalzalah 1-5 51 jika seseorang menyibukkan diri dengan dzikir, maka ia akan terlalaikan dari perkataan yang batil seperti ghibah menggunjing, namimah mengadu domba, perkataan sia-sia, memuji-muji manusia, dan mencela manusia. Karena lisan sama sekali tidak bisa diam. Lisan boleh jadi adalah lisan yang rajin berdzikir dan boleh jadi adalah lisan yang lalai. Kondisi lisan adalah salah satu di antara dua kondisi tadi. Ingatlah bahwa jiwa jika tidak tersibukkan dengan kebenaran, maka pasti akan tersibukkan dengan hal yang sia-sia.[3] Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Riyadh-KSA, 14 Rabi’uts Tsani 1432 H 20/03/2011 Baca Juga Lebih dari 100 Keutamaan Orang Berilmu dari Kitab Miftah Daar As-Sa’adah Yang Sering Menjadi Pertanyaan Seputar Dzikir Pagi Petang [1] HR. Bukhari no. 3293 dan Muslim no. 2691 [2] HR. Abu Daud no. 1522, An Nasai no. 1303, dan Ahmad 5/244. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih [3] Disarikan dari Al Wabilush Shoyyib, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, tahqiq Abdurrahman bin Hasan bin Qoid, terbitan Dar Alam Al Fawaid, 94-198.
khutbah jumat keutamaan dzikir